Rumah Adat Sulawesi Selatan

A.    Rumah adat Sulawesi selatan disebut rumah adat Tongkonan.

Dilaksir oleh: Sharingconten.com

Tongkunan adalah rumah tradisional orang Toraja. Atapnya melengkung seperti perahu, dan terbuat dari bambu (beberapa tongkun saat ini menggunakan atap seng). Di bagian depan ada barisan tanduk kerbau. Bagian dalam ruangan terdiri dari tempat tidur dan dapur, dan kata ini berasal dari kata “tongkun” (artinya duduk bersama).

Tongkonan dibagi berdasarkan tingkat mereka atau peran mereka dalam masyarakat (status sosial masyarakat Toraja). Di depan Tongkunan ada lumbung padi, yang disebut ‘alang’. Pilar-pilar silo beras ini terbuat dari batang pohon palem (banja), dan beberapa di antaranya sekarang dituangkan. Di depan gudang ada banyak patung, termasuk gambar ayam dan matahari (disebut pa’bare ‘allo), yang merupakan simbol penyelesaian kasus.

B. Pekerjaan rumah tradisional Tongkunan

Selain dianggap sebagai identitas budaya, rumah Tongkunnan di masa lalu telah menjadi tempat tinggal orang Toraja. Rumah Tongkonan adalah lambang ibu, sedangkan lumbung padi di depan rumah atau biasa disebut Alang Sura adalah lambang bapak. Adapun untuk mendukung pekerjaannya sebagai tempat tinggal, rumah tradisional di Sulawesi Selatan dibagi menjadi 3 bagian,

Bagian atas (rattiangbanua), bagian tengah (kale banua) dan bagian bawah (sulluk banua). Bagian atas, juga dikenal sebagai Rattiang Banua, adalah kamar di loteng rumah. Ruangan ini digunakan untuk menyimpan warisan yang dianggap sakral. Barang-barang berharga yang penting juga disimpan di ruangan ini.

Bagian tengah atau dikenal juga dengan kale banua adalah bagian utama dari rumah adat di Sulawesi Selatan. Bagian ini dibagi menjadi beberapa ruangan berdasarkan fungsi spesifik mereka, yaitu bagian utara, bagian tengah dan bagian selatan.

Bagian utara disebut Ruang Tengalok. Kamar ini adalah tempat untuk menerima tamu dan memberikan penawaran. Selain itu, jika pemilik rumah sudah memiliki anak, maka ruangan ini juga dijadikan tempat tidur anak.

C. Fitur Rumah Tongkunan tradisional

Bagian tengah disebut Sally. Ruangan ini digunakan untuk berbagai keperluan, seperti tempat berkumpul keluarga, dapur, dan ruang makan, serta tempat menyimpan mayat yang diawetkan. Bagian selatan disebut ruang komunikasi.

Ruangan ini terutama digunakan sebagai kepala ruang keluarga. Tidak ada yang bisa memasuki ruangan ini tanpa izin pemilik. Turun atau disebut juga sulluk banwa di bawah rumah. Bagian ini digunakan sebagai kandang untuk hewan atau sebagai tempat menyimpan peralatan pertanian.

Selain memiliki bentuk atap berbentuk kerbau, Tongkonan House tradisional memiliki banyak fitur khas yang membedakan bentuk tradisional ini dari suku-suku lain di Indonesia. Beberapa karakteristik ini meliputi yang berikut ini.

Ukuran ukuran pada dinding rumah tradisional ini memiliki 4 warna primer yang memiliki makna filosofis. Empat warna utama adalah merah, yang melambangkan kehidupan, kuning melambangkan rahmat, dan putih melambangkan kesucian, sedangkan hitam melambangkan kematian.

Di bagian depan kolom bangunan rumah ada pengaturan untuk tanduk kerbau sebagai dekorasi rumah selain itu melambangkan tingkat kelas sosial dari pemilik rumah. Dalam budaya Toraja, tanduk kerbau melambangkan kekayaan dan kemewahan.

Selain rumah tradisional di Tongkonan, ada sebuah bangunan yang berfungsi sebagai bar beras “alang sura”. Lipatan nasi ini berbentuk gedung teater dengan kolom-kolom pendukung yang terbuat dari batang pohon palem yang dibuat licin sehingga tikus tidak dapat memanjat. Di dinding lumbung padi ada tulisan ayam dan matahari yang melambangkan kemakmuran dan keadilan.

Rumah-rumah tradisional suku Bugis dan Makassar memiliki kesamaan. Kedua model hampir sama. Di Makassar orang menyebut rumah itu bola, sedangkan bugis menyebutnya bola. Rumah Suku Bogis dan Makassar terletak di atas panggung di bagian bawah.

Makassar adalah kota dan pusat pemerintahan dengan sejarah panjang dalam perjalanan rakyat Indonesia. Masyarakat adat di wilayah Sulawesi Selatan bervariasi, mulai dari suku Bugis, Toraja, dan Makassar, hingga suku-suku lain seperti Mandar, Dori, Patengo, dan Bon.

Padahal provinsi Sulawesi Selatan sendiri sebenarnya dihuni oleh banyak masyarakat adat dengan berbagai suku. Selain Toraja, ada juga Mandar yang menempati pantai Sulawesi Selatan.

3. Jenis Rumah adat Sulawesi Selatan

1.      Rumah Adat Suku Makassar

Rumah ini adalah rumah memanjang, tinggi 3 meter. Rumah ini didukung oleh balok kayu yang berjajar halus. Rumah ini berbentuk persegi panjang dengan tiang penyangga belakang dan ada juga 5 tiang penyangga samping.

Tetapi jika rumah tersebut dimiliki oleh seorang bangsawan, biasanya memiliki sejumlah kolom ukuran yang sangat besar.

Rumah adat Makassar tradisional memiliki pelana seperti atap khas dengan sudut ujung runcing. Pada zaman kuno, atap rumah ini terbuat dari jerami, buluh, bambu, atau karangan bunga. Sementara hari ini, banyak orang menggunakan ubin seng atau tanah liat untuk menutupi atap.

Bagian depan dan belakang atap dalam bentuk bagian atas segitiga disebut Timbaksela. Dari Timbukseila, suku Makassar dapat belajar tentang tingkat bangsawan yang tinggal di dalamnya. Jika Timbuksila dibuat berlapis-lapis, berarti pemiliknya mulia. Untuk pengaturan lebih lanjut dari Timbssela, semakin tinggi tingkat pemilik rumah.

Rumah tradisional Makassar memiliki dua tangga, borok dan sapana

2. Rumah tradisional suku Bugis

Sesuai namanya, rumah ini dikenal sebagai rumah tradisional Bugis. Dilihat dari desain bangunannya, bangunan ini menyerupai rumah adat Makassar dalam bentuk panggung. Menari, rumah tradisional di Bugis ini memiliki 3 bagian di mana setiap bagian memiliki nilai filosofis tersendiri.

Penjelasan berikut:

Langiq boting (bagian atas)

Ini adalah bagian dari atap rumah dan rongga di dalam rumah yang melambangkan pernikahan di langit oleh Wa Tenriabeng.

Ali Kwak (bagian tengah)

Bagian tengah rumah ini menjadi tempat tinggal pemilik rumah. Biasanya berupa beberapa kamar untuk penghuni rumah dan dapur, serta kamar untuk menerima tamu. Menurut filosofinya, di sinilah ia menggambarkan keadaan Bumi.

Puri Liu (bawah)

Ini adalah bagian bawah rumah dengan julukan yang juga melambangkan dunia bawah laut atau laut. Beberapa orang menggunakan bagian ini untuk hewan peliharaan.

3. Cari rumah tradisional

Beberapa orang menyebut rumah ini rumah tradisional Langkan. Model Cirri adalah bahan dasar untuk rumah yang terbuat dari 88 tiang kayu.

Di dalam, biasanya ada 3 kamar yang memiliki fungsi berbeda tergantung pada ukuran ruangan. Pada bagian pertama, itu disebut Tudang sipulung yang merupakan ruang besar untuk menampung tamu.

Biasanya banyak orang berkumpul di sini untuk membahas sesuatu yang menarik perhatian publik. Setelah ruang pertama, ada ruang kedua yang merupakan ruang tamu.

Biasanya ada dua kamar yang luas untuk kamar Datuk serta untuk sisa raja. Setelah itu, bagian belakang adalah kamar dengan dua kamar atau lebih kecil dari kamar tidur sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *